Sulthan Malik Abdullah


Sekularisme : Proyek Menjauhkan Agama
8:45 am, 8:45 am
Filed under: Religion

Sekularisme adalah suatu
ideology atau paham yang mengajarkan bahwa agama merupakan masalah
subjektif setipa individu yang hanya bermanfaat untuk memenuhi tuntutan
– tuntutan kejiwaan. Disamping itu paham ini hanya beranggapan agama
hanya berhubungan dengan masalah privat , dalam arti masalah – masalah
pribadi , oleh karena itu , urusana kemasyarakatan , seperti politik ,
ekonomi , kebudayaan , dan pengembangan ilmu dan teknologi modern ,
dalam pandangan sekularisme tidak dapat dan tak perlu dikaitkan dengan
agama.
Sekularisme melihat kehidupan secara dikotomis . Mereka
selalu mempertentangk antara kehidupan duniawi dan ukhrawi , imanen dan
transcendental , profane dan sacral , jasmani dan ruhani , sementara
dan abadi.. Cara berpikiran dkikotomis ini menciptakan manusia –
manusia yang berkepribadian pecah , split personality . Dalam pandangan
Islam sekularisme jelas tertolak karena Islam tidak memisahkan
kehidupan manusia secara dikotomis. Islam melihat kehidupan itu Utuh ,
satu , bulat. Sehingga , kehidupan ukhrawi kita merupakan kelanjutan
dari seluruh performance , prestasi hidup kita didunia ini.

Islam adalah agama yang lengkap semua nya sudah termaktub didalam Alqur’anul kariim ,kenapa kita justru menganggap semua itu ( politik ,
ekonomi , kebudayaan , dan pengembangan ilmu dan teknologi modern  ) tidak boleh dicampur adukkan dengan agama ,oke lah buat para pemikir sekuler kalian yg "pintar" itu bolehlah mengatakan bahwa politik ,
ekonomi , kebudayaan , dan pengembangan ilmu dan teknologi modern tidak bisa dicampur adukkan dengan agama ,maka dengan ini bolehlah kami yang "bodoh"mengatakan bahwa semua itu didalam Islam sangat terkait karena semuanya telah tertulis dan diatur didalam Al-qur’an .



Hubungan Sesama Manusia Dalam Islam
4:20 am, 4:20 am
Filed under: Religion

1. Islam Agama Keadilan

Sesungguhnya
kalau kita dengar kata tauhid didalam agama Islam itu berarti
tauhidullah , menunggalakn atau mengesakan Allah SWT.dalam ushuludin
tauhid trbagi menjadi duakategori rubbubiyah dan tauhid ulluhiyah

Tauhd
Rubbubiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah taala di dalam
perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya:

- Pencipta seluruh makhluk.

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar: 62)

- Pemberi rizki kepada seluruh manusia dan makhluk lainnya.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud: 6)

-
Penguasa dan pengatur segala urusan alam, yang meninggikan lagi
menghinakan, menghidupkan lagi mematikan, memperjalankan malam dan
siang dan yang maha kuasa atas segala sesuatu.

“Katakanlah:
Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,engkau berikan kerajaan kepada
orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang
engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan
engkau hinakan orang yang engkau kehendaki. Di tangan engkaulah segala
kebijakan. Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Engkau
masukan malam kedalam siang dan engkau masukan siang kedalam malam.
Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan engkau keluarkan yang
mati dari yang hidup. Dan engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki
tanpa hisab (batas).” (QS. Ali Imron: 26 -27).

Dengan demikian Tauhid Rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal yaitu:
1.
Beriman kepada perbuatan–perbuatan Allah secara umum seperti mencipta,
memberi rizki, menghidupkan dan mematikan dan lain-lain.
2. Beriman kepada qodho dan qodar Allah.
3. Beriman kepada keesaan Zat-Nya.
Sedangkan
tauhid Ulluhiyah adalah mengesakan Allah dalam tujuan
perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqorub dan
ibadah seperti berdoá, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakal,
bertaubat, dan lain-lain.
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa,
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh: 163)
“Allah berfirman:
Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha
Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” (QS. An Nahl: 51)

“Dan
barangsiapa menyembah tuhan yang lain disamping Allah, padahal tidak
ada sesuatu dalilpun baginya tentang itu maka sesungguhnya
perhitungannya di sisi Tuhan-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir
tiada beruntung.” (QS. Al Mu’minun: 117).

Tauhid inilah yang
dituntut harus ditunaikan oleh setiap hamba sesuai dengan kehendak
Allah sebagai konsekuensi dari pengakuan mereka tentang Rububiyah dan
kesempurnaan nama dan sifat Allah. Kemurnian Tauhid Uluhiyah akan
didapatkan dengan mewujudkan dua hal mendasar yaitu:
1. Seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah bukan kepada yang lainnya.
2. Dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah.
Kedua
macam tauhid di atas memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan,
dimana keimanan seseorang kepada Allah tidak akan utuh sehingga
terkumpul pada dirinya ketiga macam tauhid tersebut. Tauhid Rububiyah
seseorang tak berguna sehingga dia bertauhid Uluhiyah dan Tauhid
Rububiyah, serta Tauhid Uluhiyah seseorang tak lurus sehingga dia
bertauhid asma dan sifat. Singkatnya, mengenal Allah tak berguna sampai
seorang hamba beribadah hanya kepada-Nya. Dan beribadah kepada Allah
tidak akan terwujud tanpa mengenal Allah.

Kusadur Dari Buku "Tauhid Sosial" , Amie Rais

Islam Liberal ???  Capeeee’ Deeehhh ….



KRITIS BEDA TIPIS ANTARA CERDAS DAN BODOH
9:27 pm, 9:27 pm
Filed under: Weblogs

Assalamu’alaykum wr.wb

Menyimak
diskusi sabtuan yg diselenggarakan di INSIST kalibata, rasanya sangat
menarik dengan pemakalah Mas Henry Shalahuddin, MA mengenai claim Islam
Liberal yg mengatakan bahwa pemahaman mereka adalah mewarisi pemahaman
Mu’tazilah. Benarkah?????

Kalau aku menganalogikan kelompok
Mu’tazilah spt seorang anak yg cerdas, kritis, “nakal” namun masih
punya rasa takut untuk tidak melanggar hal2 yg mendasar dalam melakukan
perubahan sesuatu yg memang tidak layak dan tidak boleh dirubah (baku),
namun karena kekritisannya tersebut yg akhirnya menimbulkan kekrtisan2
yg tidak perlu, hingga menyebabkan kelompok Mu’tazilah masuk dalam
kelompok ahlul bid’ah.

Sedangkan Islam Liberal aku analogikan
spt seorang anak yg brutal, bodoh, ceroboh dan kekritisannya tersebut
bukan kekritisan orang yg cerdas, namun lebih tepat sebagai kekritisan
yg didasari dgn kekonyolan dan kebrutalannya yg disebabkan karena
kebodohan2nya dalam berfikir dan tercermin sekali sebagai pribadi2 yg
sakit secara psychologis, hingga timbul keinginan diri untuk
mengactulisasikan dirinya dengan cara apapun agar dikenal dan diakui
dalam kelompok masyarakat awam, dan masyarakat bingung yg mengalami
gangguan psychologis spt mereka.

Kesamaan Mu’tazilah dan Islam
Liberal hanya sebatas kesamaan dalam mengedepankan akal dari pada
wahyu. Namun kelompok Mu’tazilah yg mengedepankan akal masih dilandasi
dgn keyakinan akan kebenaran hal2 yg mendasar dalam islam dan cara
berfikir Mu’tazilah hanya mencerminkan kecerdasan seorang anak, namun
masih mempunyai rasa takut untuk melanggar hal2 yg pokok dalam islam.
Sedangkan Islam Liberal yg mengedepankan akal seorang anak yg mengalami
gangguan kejiwaan, hingga melakukan kebrutalan2 dalam beragama dan
cerminan kekonyolan seorang anak yg frustasi dalam mengekspresikan
dirinya agara dapat diakui dan dikenal oleh masyarakat, hingga
melakukan cara apapun dalam mengekspresikan dirinya tanpa berfikir
kalau kecerobohan dan kekonyolannya tersebut, dilihat oleh pihak lain
sebagai kebodohan2 cara berfikir sesoerang yg berbalut “intelektual”.

CARA BERFIKIR MU’TAZILAH

Kajian
pemikiran Mu’tazilah lebih pada pembahasan sifat2 Allah yg menjurus
pada pensucian Tuhan yaitu menolak sifat dan dzat Allah untuk
diserupakan dengan mahlukNya, dari konsep Mu’tazilah ini muncul prinsip
bahwa sifat dan dzat Allah adalah satu. Menurut pemahaman Mu’tazilah
jika Al-qur’an diterima sebagai sifat Allah yg terpisah dari dzatNya,
maka akibatnya adalah sesuatu yg qodim (kekal) selain dzat Allah. ini
berarti menerima penyerupaan sifat Allah dengan dzatnya. Maka untuk
mengatasi problem ini, maka Mu’tazilah memperkenalkan prinsipnya bahwa
Al-qur’an itu bukan sifat Allah, tetapi mahluk Allah.

Pembahasan
sifat2 Allah secara mendetail belum ada di zaman Nabi dan Sahabat,
hingga pada saat ada salah seorang sahabat yg menanyakan kedudukan
sifat Allah, membuat merah wajah Rasulullah dan mengatakan “apakah aku
diutus hanya untuk membahas hal seperti itu?” yaitu dalam arti membahal
hal2 yg tidak perlu dan tidak penting. Karena membahas kedudukan sifat
Allah, hanya satu pembahasan yg sia2 dan buang2 waktu, karena akal
manusia itu terikat dan tidak akan mampu menembus kedudukan sifat
Allah. tapi selaku seorang mukmin karena keterikatan akalnya cukup
mengimani dengan kami dengar dan kami taat saja. Sedang yg perlu
dibahas adalah ciptaan2 Allah yg tampak di langit dan bumi untuk
menambah ketaqwaan kita padaNya.

Sedangkan pemikiran Mu’tazilah
tersebut dilatar belakangi penolakannya terhadap pemikiran Shi’ah yg
menyebarkan madzhab Tashbih yg mengatakan bahwa sifat dan dzat Allah
menyerupai sifat dan dzat mahlukNya, hingga timbul prinsip pensucian
Tuhan yg menolak penyerupaan sifat dan dzat Allah dengan mahlukNya dan
sebagai respon menolak akidah Yahudi dan Nasrani dengan trinitasnya.

5
prinsip Mu’tazilah yaitu Tauhid, Keadilan, Janji dan ancaman, kedudukan
diantara 2 kedudukan, dan amar makruf nahi munkar dan ulama Mu’tazilah
sepakat apabila seseorang tidak mengakui salah satu dari 5 prinsip tsb
atau mengurangi dan menambahi prinsip tsb, maka orang tsb tidak layak
dikatakan sebagai kelompok Mu’tazilah. Pada umumnya ulama2 Mu’tazilah
sepakat bahwa Al-qur’an adalah firman Allah, ia diciptakan sebagaimana
mahluk lainnya diciptakan, oleh karena itu Al-qur’an dalam pandangan
mereka adalah sesuatu yg tidak abadi, dengan argumentasi jika dalam
al-qur’an terdapat perintah dan larangan serta janji dan ancaman,
sesungguhnya perintah itu sendiri memerlukan objek yg diperintah. Spt
perintah sholat yg tidak mungkin ada semenjak azali sebelum manusia
diciptakan, karena tidak mungkin ada perintah tanpa ada manusia yang
diperintahkan terlebih dahulu, maka dari itu perintah Allah tidak kekal.

Pada
prinsipnya Mu’tazilah tidak mempersoalkan al-qur’an dari segi bahasa,
Mu’tazilah tidak mempersoalkan al-qur’an sbg firman Allah. Mu’tazilah
tetap menggunakan argumentasi dengan ayat2 al-qur’an yg terdapat dalam
mushaf utsmani, disamping argumentasi rasional yg artinya Mu’tazilah
tidak pernah mengkritik validasi al-qur’an mushaf utsmani.
Substansi pemikiran Mu’tazilah dengan semangat keislaman dan keilmuah dgn paradigma yg jelas.

PANDANGAN AHLUSSUNAH TERHADAP PEMIKIRAN MU’TAZILAH

Imam
al-Ash’ari menganalisa kata2 khalq dalam ayat QS 7:54 “ingatlah,
menciptakan (al-khalq) dan memerintahkan (al-amr) adalah hak Allah”.
dalam ayat tsb “al-khalq” mencakup makna segala sesuatu yg
diciptakanNya, kemudian kata “al-amr” (perintah) yg tidak masuk dalam
kategori al-khalq. Maka dengan sendirinya al-amr merupakan bagian dari
kalam Allah, dan bukanlah termasuk kategori mahluk. Disamping itu
lanjut imam al-ash’ari kata2 perintah (al-amr) dalam surat Rum : 4
“bagi Allah segala perintah (al-amr) sebelum dan sesudahnya” berarti
sebelum diciptakan dan sesudahnya, oleh sebab itu al-amr bukanlah
termasuk mahluk.

Argumentasi utama Mu’tazilah tentang
temporalnya Al-qur’an, hanya kepada ketidakmungkinan azalinya peristiwa
dalam Al-qur’an yg kemudian baru diwahyukan pada masa kerasulan
Muhammad SAW dan argumentasi ini hanya menyentuk aspek Al-qur’an dari
sisi suara yg dilafadzkan. Hingga argumentasi Mu’tazilah terkait dengan
sifat temporalnya perintah, larangan, janji dan ancaman Allah dalam
Al-qur’an yg memerlukan objek.
Sedangkan ke azalian Al-qur’an bagi
ahlussunah merujuk pada kalam nafsi, yg berwujud ide dan pengetahuan
(ilmu) yg telah ada semenjak azali, sebelum terlafadzkan dan diwahyukan
kepada Muhammad SAW. Jadi argumentasi ahlussunah adalah segala
peristiwa yg termaktub dalam Al-qur’an sudah dalam pengetahuan (ilmu)
allah semenjak azali. Sebab sifat mengetahui bagi Allah adalah qodim
(kekal) yg tidak terbatasi dengan ruang dan waktu, baik yg telah lalu
atau yg akan datang. Dan pandangan ahlussunah sebenarnya tidak harus
diinterprestasikan bahwa Al-qur’an adalah mahluk, karena Allah secara
azali telah mengetahui bahwa Dia akan menciptakan alam semesta seisinya
dan ketika alam telah tercipta maka hal tsb bersesuaian dengan
pengetahuan Allah yg azali itu. Dan pandangan ini sejalan dengan
golongan al-asha’irah bahwa semua kejadian, perintah, larangan, dsbnya
yg terdapat dalam Al-qur’an sudah dalam pengetahuan (ilmu) Allah yg
azali, kemudian menetapkannya dalam Al-qur’an sebelum menciptakannya.

CARA BERFIKIR ISLAM LIBERAL YG TIDAK ILMIAH DAN IRASIONAL

Pendapat
kalangan Islam Liberal yg ada di Indonesia ttg Al-qur’an adalah produk
budaya, teks manusiawi dan menganggap sebatas fenomena sejarah dan
islam liberal mengclaim bahwa Al-qur’an terhegemoni oleh bangsa Arab
Quraish adalah jelas tidak ilmiah. Karena justru sebaliknya yaitu
Al-qur’an mempengaruhi budaya bangsa Arab yg jahiliyah menjadi bangsa
yg beradab. Dalam penggunaan istilah yg sama sebelum datangnya
Al-qur’an dengan setelah datangnya Al-qur’an, teks yg sama namun
mempunyai makna yg berbeda. Contoh : istilah nikah menruut Arab
jahiliyah adalah pemenuhan kebutuhan seks tanpa batas pertalian darah,
hingga istripun dapat diwariskan. Namun istilah nikah menurut Al-qur’an
mempunyai makna yg berbeda yaitu perjanjian yg kuat. Istilah karim
(mulia) menurut Arab Jahiliyah adalah kemuliaan yg diartikan dengan
banyaknya istri, anak, dan harta sedangkan istilah Karim (mulia) dalam
Al-qur’an, istilah kemualiaan dalah ketinggian derajat orang yg paling
bertaqwa di sisi Allah.

Ungkapan tokoh Islam Liberal yg
menganggap semua agama sama, justru mencerminkan pemahaman orang awam
dalam beragama, karena tidak memahami konsep ketuhanan dalam tiap agama
dan merupakan pemahaman terbalik dari kelompok Mu’tazilah yg lahir
karena untuk menolak akidah yahudi dan konsep trinitasnya nasrani,
serta kelompok shi’ah yg mengatakan sifat dan dzat Allah sama spt
mahlukNya.
Dalam menafsirkan ayat2 mengenai homoseksual, tokoh
Mu’tazilah (al-zamakhsyari) mengatakan bahwa tidak ada perbuatan yg
lebih tercela dari perilaku homoseksual, sehingga pelakunya layak
disifati sbg binatang dan merupakan perbuatan menjijikkan yg merusak
jalan keturunan. Sedangkan perilaku homoseksual saat ini mendapat
dukungan dari tokoh Islam liberal yg mengatakan “hanya orang primitif
saja yg melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yg abnormal dan
berbahaya. Bagi kami, tidak ada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih
apapun untuk melarang perkawinan sejenis, sebab Tuhan sudah maklum
bahwa proyeksnya menciptakan manusia sudah kebablasan”.

Walaupun
Mu’tazilah menganggap Qur’an itu mahluk, tapi mereka tidak pernah
mengatakan bahwa al-qur’an tehegemoni oleh budaya Arab dan mengakui
al-qur’an sbg firman Allah. sedangkan Islam liberal menyebarkan doktrin
bahwa Al-qur’an adalah produk manusia dan budaya Arab, hingga untuk
mengkuatkan doktrin tsb salah seorang “intelektual” liberal yg brutal
telah meningjak2 lafadz Allah dihadapan mahasiswanya.

KESIMPULAN

Paham
islam liberal sangat berbeda dengan pemahaman Mu’tazilah, baik dari
sudut pemikiran rasional, permasalahan dan latar belakang. Latar
belakang kemunculan paham Mu’tazilah karena maraknya keekstriman
madzhab tashbih yg membahayakan kemurnian Tauhid, walaupun akhirnya
Mu’tazilah terjebak dalam bentuk keekstriman yg lain, sehingga mereka
banyak menciptakan bid’ah keagamaan yg dilarang dan menyebabkan ulama2
Ahlussunah mengkoreksi kekeliruan yg disebarkan tsb dan menggolongkan
aliran Mu’tazilah sebagai Ahlul Bida (pembuat bid’ah).

Namun
kemunculan islam liberal tidak didasarai oleh latar belakang yg jelas,
kecuali memuaskan nafsu protes terhadap ajaran islam dan ingin merombak
ajaran islam secara brutal dengan melakukan tindakan arogan secara
pemiiran yg di dasari oleh pemikiran brutalnya hingga mampu menghina
Al-qur’an dan menafikan firman Allah serta kerasulan Muhammad SAW
sebagai pembawa firman Allah dan menghina kedudukan para ulama klasik
yg bermartabat. Serta argumen pemikiran islam liberal, jauh dari kesan
ilmiah kecuali kebodohan2 yg ditampakkan sebagai kelompok yg beragama
secara awam dengan mengatakan semua agama sama. Pemikiran irasional yg
menganggap homoseksual adalah cara tepat untuk menghentikan proyek
Allahd alam membuat manusia, serta pemikiran yg tidak ilmiah dengan
mengatakan Al-qur’an adalah produk orang Arab yg terhegemoni oleh
budaya Arab.

Hmmm..aku jadi ingat candaanku dahulu, bahwa kritis
itu beda tipis antara kecerdasan dan kebodohan. Kekritisan kelompok
Mu’tazilah karena di dasari oleh kecerdasannya, namun kekritisan islam
liberal didasari oleh kebodohannya. Orang bodoh mengaku pintar itu spt
gambaran orang liberal yg menclaim bahwa pemikirannya adalah mewarisi
kelompok Mu’tazilah.
Hehehehe !!!

JIL ??? Capeeee Deeeehh ………. ~_~’