Sulthan Malik Abdullah


Film Islami bertema Cinta,Film Indonesia githu lho :P
7:12 am, 7:12 am
Filed under: Television

Satu lagi film bertema “Religi” yang ditayangkan disalah satu TV Swasta Indonesia yaitu RCTI “Munajah Cinta”, seakan tak habis-habisnya tayangan-tayangan yang hanya memanfaatkan Agama sebagai komoditi untuk menghasilkan pundi-pundi materi, namun pada dasarnya hampa pesan moral, kalaupun ada, kesannya seolah-olah dipaksakan karena Aktor dan Aktris didalam film-film tersebut sudah banyak diketahui masyarakat bagaimana keseharian mereka.

Begitu lancarnya bibir-bibir mereka melantunkan ayat-ayat Allah, namun lagi-lagi tidak berdampak pada perubahan yang signifikan dalam diri Oknum yang bermain didalamnya, lalu bisakah film yg mereka mainkan mampu memberikan perubahan dalam hidup masyarakat secara Umum. Mungkin banyak dalih yang keluar dari bibir aktor dan sutradara di dalamnya, tapi semua itu tak ubahnya ibarat  debu yang berterbangan tanpa makna.

Mungkin ada yang masih ingat tentang film “Ayat-ayat Cinta” ? Dalam pandangan saya didalam film tersebut dimana letak ayat-Nya ? yang ada justru seorang ikhwah (Baca:Fedi Nuril “Fahri”), yang terjebak perasaan karena tak adanya hijab dalam pergaulan keseharian dengan lawan jenisnya. Penulis mengakui bahwa hal itu tentunya sangat manusiawi,  dimana ketika kita sudah tidak mampu menjaga ruang lingkup pergaulan kita, sudah pasti “jawaban” dari itu semua adalah kita terperalat oleh perasaan kita, dan boleh dibilang diri kita secara tidak langsung menjadi “Alat-alat Cinta”.

Yap… “Alat-alat Cinta”-lah mungkin yang bisa saya berikan judul dalam film tersebut, yang tak sedikit menilai film itu sangat jauuuh dari Novelnya, karena banyak hal-hal yang seharusnya disampaikan tentang Islam, namun difilm tersebut justru tidak disampaikan oleh sang Sutradara kecuali tema “Cinta”-nya. Ngomong-ngomong soal cinta, ada sebuah kisah tentang seorang tokoh sholeh yang banyak dikagumi oleh kaum perempuan, namun karena dia tidak bisa memagari kesholehannya dengan menumbuhkan Mahabbah kepada Allah, justru dia terpeleset jauh kedalam jurang “Cinta”, sehingga untuk memenuhi hasratnya yang bergejolak itu diapun merayu Tuhan-nya dengan melakukan Qiyamulail agar mendapat “restu” dari Tuhan-nya itu, tidak tanggung-tanggung hal tersebut dia lakukan hingga 3 kali, barulah “katanya” dia mendapat “restu” untuk melakukan Zina Hati.

Pernahkah saudara mendengar kisah tokoh Sufi Islam kenamaan yang bernama Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Al Imamul Jalil ibn Abu Hamid Ath Thusi Al Ghozali atau diringkas Imam Al-Ghozali dimana ketika puncak kesholehannya dia mendapat cobaan dari Allah Swt, berupa didatangkannya cahaya didepan matanya ketika beliau sedang melantunkan Ayat-ayat Cinta-Nya ba’da qiyamulail, cahaya itu berkata agar Imam Al-Ghozali berhenti beribadah, karena sudah terlalu banyak ibadahnya kepada Allah, sehingga tak perlu lagi melakukan Ibadah-ibadah yang lain, karena Allah sudah menyiapkan satu tempat untuknya disisi-Nya. Namum Imam Al-Ghozali tidak mau tertipu, langsunglah dia lempar cahaya itu, yang rupanya adalah Syaithan yang sedang menggodanya.

Maka dari itu, bila dulu kita adalah makhluk-makhluk yang selalu menjadi “Alat-alat Cinta”, maka mulai dari sekarang berhati-hatilah Syetan atau Dajjal akan selalu hadir dengan membawa bingkisan, yang seolah-olah isinya adalah Madu Iman (Baca: Cinta), melainkan sebaliknya yaitu Racunnya Iman ( Cinta yg salah sasaran ). Loh kenapa cinta bisa menjadi racunnya Iman ?, guys, perlu yey tau ya yang membuat cinta itu menjadi racun adalah ketika kita sudah menyalahi aturan yang diinginkan oleh cinta itu. Wahhh jadi panjang nich urusan klo sudah bahas cinta, oke dech karena penulis adalah orang yang kreatif ( sedikit Narsis Gpp yach ^_^ ), maka akan saya tulis dech ampe sefet nich mata.

Menurut Hamka, “Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan penghargaan, menguatkan hati dalam perjuangan, menempuh onak dan duri penghidupan.”

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ada persoalan besar yang harus diperhatikan oleh orang yang cerdas, yaitu bahwa puncak kesempurnaan, kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang ada dalam hati dan ruh tergantung pada dua hal. Pertama, karena kesempurnaan dan keindahan sesuatu yang dicintai, dalam hal ini hanya ada Allah, karenanya hanya Allah yang paling utama dicintai. Kedua, puncak kesempurnaan cinta itu sendiri, artinya derajat cinta itu yang mencapai puncak kesempurnaan dan kesungguhan. (dalam kitab al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi, edisi terjemah. hlm. 255)

Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan, “Semua orang yang berakal sehat menyadari bahwa kenikmatan dan kelezatan yang diperoleh dari sesuatu yang dicintai, bergantung kepada kekuatan dorongan cintanya. Jika dorongan cintanya sangat kuat, kenikmatan yang diperoleh ketika mendapatkan yang dicintainya tersebut lebih sempurna.”

Ibarat nich ya, kita lagi terik-terik matahari nich, terus cari – cari  warung Pak De lalu pesen Es Tebu, nah gimana coba rasanya, pasti Mak Nyus bukan ? begitulah cinta yang sebenernya yang harus kita rasakan kepada Allah, ketika Mahabbah meningkat Insya Allah kebahagian dan kenikmatan yang kita dapat ibarat minum Es Tebu Pak De di teriknya matahari siang bolong. Bahkan Lebih….Lebih dan lebih.

Sobat Muda Muslim Rahimakumullah ^^, tanamkanlah cinta hanya untuk Dzat yang memberikan cinta itu, Insya Allah kita tidak akan pernah menjadi “Alat-alat Cinta”. Jangan pernah mencari legalisasi atas segala perilaku buruk kita yang menyalahi Norma Agama, karena perlu diingat apa yang kita lakukan berarti sebatas itulah kemampuan cara pandang kita dalam menyikapi kehidupan ini. Bila kita menjalani kehidupan ini sesuai Nash-nash yang ada, maka percayalah Allah pasti akan membalasnya dengan kebaikan pula, namun bila buruk segala amalan kita ditambah lagi kita malah MEREMEHkan segala pesan moral yang ada, maka percayalah siksa Allah sangatlah pedih. Na’udzubillah.

Namun mengapa penyimpangan-penyimpangan yang ada ditengah masyarakat, selalu yang mereka salahkan adalah “cinta”, Zina atas Nama Cinta, Selingkuh atas nama Cinta. Percayalah sobat, itu semua bukanlah cinta melainkan hanya sebuah  keinginan yang menggebu yang mana seperti yang saya ucapkan diatas, seolah-olah madu tapi nyatanya adalah racun, Gak Percaya ? tunggu saja buktinya ya.

Maka dari itu sobat muda Muslim yang perlu kita jaga dalam kasus ini adalah kehormatan dan kesucian diri kita. Penulis menyadari segala sesuatunya tidaklah bisa berjalan secara instant melainkan butuh proses, maka dari itu optimalkanlah proses yang sedang berlangsung dalam diri dan hidup kita ini. Saya yakin didalam hati kecil kalian membenarkan pesan ini, karena didalam hati kecil itu pasti ada setitik iman menyelip, namun bila ini masih juga salah, penulis akan menerima resiko dituduh sebagai Makhluk Tuhan Paling Muna’( hmmm…. spt bait lagu nich :P ), bila ada yang berfikir demikian maka itu berarti benarlah apa yang dikatakan Allah dalam firman-Nya surah Al-Baqarah ayat 7 :

“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat adzab yang berat”

Kembali  kemasalah diatas, kehormatan dan kesucian diri yang perlu kita jaga disini adalah disisi Allah Swt, karena Allah – lah Dzat yang menggenggam setiap isi hati hamba-hamba-Nya. Karena apalah artinya kita mulia disisi manusia or lingkungan kita, bila ternyata kita hina dina disisi-Nya. Namun santai dan penuh ikhtiarlah dalam menjalani kehidupan walau kita selalu di cemooh oleh mereka-mereka itu, karena percayalah Allah itu maha Adil, kejarlah Mardhotillah karena ending kehidupan kita adalah AKHIRAT.

Maka padamkanlah semuanya keinginan yang bisa merusak sendi-sendi keimanan kita atau bahkan dakwah kita ( khusus ADK ) yang prosesnya terkadang tanpa kita sadari, tanpa kita rasakan yang tiba-tiba sudah akut didalam dada. Semoga firma Allah Swt dibawah ini mampu menjadi pengingat kita :

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).”

(QS an-Naazi’aat : 40-41)

Jadi inilah Islam sebuah agama yang terlalu sempurna bila hukum-hukum yang didalamnya hanya untuk difilmkan, karena Islam adalah agama yang hukum-hukum serta aturan didalamnya hanya untuk di implementasikan. Secara pribadi penulis menolak semua film religi, apalagi film-film religi yang bergenre sinetron.  Wallahu a’lam.