Filed under: Religion
Mendamba Persatuan
Ini buka hitung-hitungan besar kecil suatu golongan, tapi ini tentang persatuan
yang mengundang berkah. Kita masih mengingat, ketika dalam sejarah Nahdlatul
Ulama (NU) tercatat meninggalkan Masyumi. Muktamar Palembang,
5 April 1952 menyetujui putusan PBNU untuk keluar dari Masyumi.
Selanjutnya kita mengetahui, Nahdlatul Ulama mengibarkan bendera
politiknya sendiri. Sejak saat itu kekuatan Politik Islam di Indonesia tidak
pernah lagi menjadi signifikan.
Politik pernah mampu menyatukan kekuatan Islam. Tapi politik juga lebih sering
menjadi pasal utama terpecah-pecahnya kekuatan Islam.
Sudah waktunya ummat ini menentukan alasan yang lebih besar untuk menyatukan
diri. Sudah saatnya kita membangun agenda bersama yang tidak saja menyatukan
ummat pada tahapan cita-cita, tapi juga mampu mengukuhkan ummat pada proses
aksi dan rencana.
Ukhuwah Islamiyah menjadi kata yang sering kita dengar. Diteriakkan di atas
mimbar-mimbar, ditulis berlembar-lembar, ditelaah di dalam konferensi dan
seminar. Tapi hanya berhenti sampai disana, tak pernah lebih jauh lagi
perjalanannya.
Usaha mempersatukan ummat ini, telah dirintis jauh-jauh hari, oleh banyak
orang, dan telah meninggalkan banyak warisan. Dalam sejarah Islam kontemporer
kita mencatat banyak nama. Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afghani, seumur
hidupnya dibaktikan untuk membangkitkan ruh persatuan ummat Islam.
Jamaluddin Al Afghani begitu Concern pada Pan Islamisme, demi
membebaskan kaum muslimin dari cengkeraman kolonial. Sedangkan Muhammad Abduh
menitikberatkan menyelesaikan masalah di bidang pendidikan dan pemurnian
akidah, sebagai landasan utama persatuan ummat Islam. Diseluruh tempat yang
disinggahi, dan disemua golongan disentuh, kedua tokoh ini menyeru-nyeru untuk
bersatu. Penyatuan negara-negara Islam dan kaum Muslimin di seluruh dunia.
Tongkat estafet lalu diteruskan oleh Rasyid Ridha, yang juga tak kalah gigih
berusaha untuk mengeratkan ummat Islam dalam satu ikatan. Rasyid Ridha menyeru
kepada Ummat Islam agar kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mewujudkan
persatuan. Ia mendukung ide khilafah, pemerintahan berbasis ulama dan
menentang pengaruh Barat yang melemahkan ummat.
Setelah itu kita mengenal nama yang lainnya. Ada Imam Syahid Hasan Al Banna
dengan Ikhwanul Muslimin. Ada pula Abu A’la Al-Maududi dengan
Jamaat Islami. Di Indonesia sendiri ada tokoh- tokoh seperti H.O.S
Tjokroaminoto, A. Hassan, Muhamad Natsir dan banyak lagi. Mereka begitu
mendamba persatuan ummat Islam. Persatuan yang akan membuat ummat dan agama ini
menjadi lebih tinggi dalam peradaban manusia.
Kebangkitan Dakwah
Dalam 10 tahun
terakhir, di negeri ini semarak dakwah begitu gegap gempita. Seluruh jenis
harakah menemukan momentum untuk lebih maju, berkembang dan memperkuat jama’ah.
Jika pada tahun 1970-an kita begitu sulit menemukan Muslimah -
muslimah berjilbab dijalan-jalan, suasana mulai berganti pada tahun
1980-an. Pada tahun ini mulai ada perlawanan atas pengekangan. Jilbab mulai
merambah kampus dan sekolah, meskipun pemakainya harus berhadapan dengan
pengadilan.
Dengan berselangnya waktu, dengan begitu banyak lahirnya harakah bernafas
dakwah, kita bisa lihat. Jama’ah Tarbiyah yang dengan Jama’ahnya mampu
melahirkan PKS, yang hari ini seluruh kadernya nyaris merata dari Sabang hingga
Papua. Ada pula Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang berhasil menggelar
Konferensi Khilafah Internasional yang konon dihadiri lebih dari 100.000 kaum
muslimin dari seluruh Nusantara. Ada Jama’ah Salafy yang halaqah
pengajiannya selalu dibanjiri dan memikat orang-orang yang ingin
mengimplementasikan As-Sunnah dalam kehidupannya. Begitu juga Jama’ah
Tabligh yang hampir setiap tahun menggelar pertemuan akbar di Jakarta Utara
dan dihadiri oleh ribuan Manusia. Majelis Mujahidin Indonesia dan Front
Pembela Islam juga menarik perhatian bagi kaum Muslimin yang ingin mengabdi
pada penegakan Amar ma’ruf nahy munkar.
Fenomena diatas belum
lagi ditambah dengan Ustadz dan dakwah perorangan. Abdullah Gymnastiar ( I Love
you A’ :d ) masih menjadi magnet setiap kali pengajian. Arifin Ilham dengan
gerakan dzikirnya menjadi warna tersendiri untuk Indonesia. Yusuf Mansyur.
Motivasi sedekah yang diusungnya menjadi motor tersendiri. Bahkan Habib Mundzir
Al Musawa dengan Majelis Rasulullah yang dipimpinnya menjadi kekuatan
tersendiri yang menyebarkan kecintaan pada sang Nabi.
Hari ini jumlah populasi dunia kurang lebih diperkirakan oleh PBB sebanyak
hampir 6 milyar manusia. Jumlah kaum Muslimin kurang lebih 1,6 milyar atau
hampir seperempat penduduk dunia. Dari angka diatas, jumlah Muslim terbesar di
Asia Tenggara nyaris 400 juta jiwa, meliputi negara-negara seperti , Malaysia,
Indonesia, Thailand, Brunei, Philipines, bahkah Singapura.
Di antara negara-negara diatas, Indonesialah negara yang jumlah Muslim paling
dahsyat, hampir 200 juta manusia yang bernaung di berbagai jamaah dan harakah.
Bagi kaum muslimin jumlah, angka hampir 200 juta jiwa adalah kekuatan yang luar
biasa. Tapi bagi musuh-musuh Islam, angka 200 juta jiwa adalah ancaman yang ada
di depan mata. Kita ingin bersatu, tapi mereka mati-matian memecah belah. Kita
ingin menjadi kuat, tapi mereka begitu gigih membuat kita lemah.
Tapi dari segalanya, bukan acaman dari luar yang mengkhawatirkan, tapi
kesanggupan untuk bersatulah yang mesti dipertanyakan. Betapapun kuatnya
musuh-musuh Islam, ketika kaum muslimin bersatu, Insya Allah tak bisa
dikalahkan.
Sesungguhnya ummat ini lebih mudah untuk bersatu dari pada berpecah belah.
Sebab kita adalah ummat yang saling mengasihi sesama, dan lebih tegas pada
orang Kafir. Seperti yang ada dalam firman-Nya : “ Muhammad itu adalah utusan
Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap orang-orang
kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan
sujud mencari karuni Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada
muka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29)
Sudah saatnya kita menentukan agenda besar bersama, lalu bergandeng tangan
dalam jama’ah mewujudkan Islam sebagai rahmat alam semesta. BERSATULAH KAUM
MUSLIMIN. Hilangkan fanatisme golongan. Wallahu ‘aliimun Hakiim.